Tag Archives: cerita inspirasi

Tanya Pada Diri Anda. Sudahkah Anda Bersyukur Hari ini?

Apakah yang Anda Cari?cerita motivasi

Diam di rumah merindukan berpergian. setelah berpergian merindukan rumah.

waktu tenang mencari keramaian. waktu ramai mencari ketenangan,

Setelah berkeluarga, belum mempunyai anak mengeluh. setelah memiliki anak mengeluh biya pendidikan dan pendidikan.

Manusia memang tidak akn pernah bisa mengisi “bejana kepuasan” dalam hidupnya.  sebab segala sesuatu tampak indah sebelum dimiliki. namun setelah dimiliki tidak lagi menarik.

kapankah kebahagiaan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, namun mengabaikan apa yang sudah dimiliki.

Jadilah pribadi yang selalu bersyukur….

Bersyukurlah senantiasa dengan berkat yang sudah kita miliki.

Bagaimana mungkin selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini?

jangankan bumi, menutupi telapak tangan saja sulit.

namun bila daun kecil ini menempel di mata kita, amak tertutuplah bumi. bila hati ditutupi pikiran buruk sekecil apapun maka kita akan melihat keburukan di mana-mana. Bumi inipun akan tampak buruk.

jangan menutup mata kita, hati kita walaupun hanya dengan daun yang kecil.

Syukuri apa  yang sudah kita miliki, sebagai modal untuk memuliakan Tuhan. karena hidup adalah waktu yang dipinjaman dan harta adalah anugrah yang dipercayakan.
bersyukurlah atas nafas yang masih kita miliki
bersyukurlah atas pekerjaan yang kita miliki. masih banyak orang  yang tidak seberungtung kita hari ini.

Saat ini saya bersyukur dapat menuliskan artikel ini di blog saya sehingga Anda dapat membacanya.

cerita motivasiSudahkan Anda bersyukur hari ini?

 

Incoming search terms:

  • inspirasi diam

Belajar Berdiam Diri

Sekelompok orang pecinta alam sedang menyusuri dan mempelajari sebuah goa. Goa itu sudah diperlenkapi dengan lampu meskipun peralatan listrik yang sederhana untuk mempermudah mempelajari goa tersebut.

setelah masuk begitu dalam, menikmati keindahan dalam goa. Tiba-tiba listrik putus. Gelap sekali. Team tidak membawa senter untuk jaga-jaga karena hal ini belum pernah terjadi. Bayangkan betapa gelapnya di dalam goa itu.

orang-orang mulai panik dan ingin menyelamatkan diri sendiri. hiruk pikuk pun terjadi. Mereka berlari kesana kemari, tetapi selalu mentok dan berbenturan dengan temok goa atau teman mereka sendiri. Mereka kehilangan arah.

Udara lembab di goa membuat suasana menjadi semakin mencekam.

“Stop!”, Ketua team berteriak. “Tenang semua….kita perlu tenang supaya bisa merasakan hembusan asal angin. dengan begitu kita bisa menemukan jalan keluarnya”, ketua team segera mengambil tindakan untuk memandu teman-temannya mencari jalan keluar.

Listrik tidak kunjung menyala.

setelah tenang beberapa waktu, mereka mulai merasakan hembusan angin dan mengikutinya. tidak lama kemudian, mereka melihat cahaya dari pintu keluar. dan mereka berhasil keluar dari goa itu dengan selamat.

sahabat yang luar biasa,

Bila bathin anda sedang gundah dan kacau, anda tak akan pernah melihat jalan keluar yang tepat. Anda butuh untuk pertama-tama menenangkan diri. Hanya dalam keheningan anda bisa melihat pokok masyalah secara tepat, serta secara tepat pula membuat keputusan.

Saat Anda tenang, bunyi detak jarum jam pun dapat terdengar. Saat Anda tenang, Solusi dapat Anda temukan.

Rasanya Memendam Kebencian

Seorg Ibu Guru TK mengadakan “permainan”

Ibu Guru menyuruh anak2 murid’nya membawa kantong plastik transparan 1buah & kentang.

 

Masing” kentang tsb diberi nama berdasarkan nama org yg dibenci.

Sehingga jmlh kentang’nya tdk ditentukan brp, tergantung jumlah org yg dibenci.

 

Pd hari yg disepakati masing” murid membawa kentang dlm kantong plastik.

Ada yg berjmlh 2, ada yg 3 bahkan ada yg 5.

 

Murid” hrs membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi,

bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.

 

Hari berganti hari, kentang2pun mulai membusuk, murid2 mulai mengeluh, apalagi yg membawa 5bh kentang, selain berat baunya juga tdk sedap.

 

Stlh 1minggu murid” TK tersebut merasa lega krn penderitaan mereka akan segera berakhir.

 

Ibu Guru:”Bgmn rasanya membawa kentang selama 1minggu  anak2 ?”

 

Keluarlah keluhan dari murid2 TK tersebut, pd umumnya mereka tdk merasa nyaman hrs membawa kentang2 busuk tsb kemanapun mereka pergi.

 

Gurupun menjelaskan apa arti dari “Permainan” yang mereka lakukan.

 

Ibu Guru:

 

“Seperti itulah kebencian yg selalu kita bawa2 apabila kita tdk bisa memaafkan orang lain.!”

 

Sungguh sangat tdk menyenangkan membawa kentang busuk kemanapun kita pergi.

 

Itu hanya 1 minggu, bgmn jk kita membawa kebencian itu seumur hiϑųp..?”

 

 

Alangkah tidak nyamannya..

 

Krn itu, lepaskanlah pengampunan kpd orang yang Anda benci.

 

Krn ketika anda tidak mau mengampuni, anda seperti sedang memegang bola berduri.

 

Semakin anda tdk mau melepaskan bola berduri itu, anda sendiri yg akan merasakan sakit.

 

krn itu tdk ada jln lain kecuali melepaskan pengampunan..

Bagaimanakah caranya melepaskan pengampunan?

cara paling mudah adalah dengan mengakui semua kebencian, rasa marah, rasa jengkel dll. kemudian dengan sadar melepaskan semua emosi negatif itu

saat berdoa (menurut agama/kepercayaan masing-masing) bisa spt ini:
“Tuhan pencipta langit dan bumi, yang memberikan nafas kehidupan kepada orang baik dan jahat, saat ini saya merasa marah, jengkel, benci dll (ungkapkan semua perasaan negatif Anda) kepada si A.
Saya tahu Engkau sudah mengampuniku, saat ini saya ingin mengampuni si A, karena saya mengasihi-Mu, saya mengasihi dan menghargai diri saya. Amin”

Doa singkat di atas bisa dirubah sesuai keinginan Anda. intinya

  1. Mengucapkan Syukur/mengakui kebesaran Tuhan
  2. Ungkapkan Perasaan Anda, alias “Curhat”
  3. Bersyukur atas segala nikmat yang sudah Tuhan berikan
  4. Niatkan dan mengijinkan untuk memaafkan dan melepaskan emosi negatif

Jika Anda mempunyai tips untuk melepaskan emosi, memaafkan seseorang, silahkan share….

Terima kasih

 

Memaksimalkan Diri

Liu Wei adalah seorang pemuda yang kehilangan kedua lengannya pada usia 10 tahun karena tersengat listrik. Sekalipun demikian, ia tidak patah arang dalam menjalani kehidupannya. Karena tidak memiliki tangan, ia memaksimalkan kedua kakinya untuk melakukan berbagai pekerjaan sehari hari, mulai dari menggunakan komputer, makan, berpakaian, hingga menggosok gigi.

Pada umur 18 tahun, ia memutuskan untuk berkarir di bidang musik dan menggunakan kakinya untuk memainkan piano. Dan pada 11 Oktober 2010 lalu, Liu saat itu berusia 23 tahun menuai hasil kerja kerasnya dengan memenangkan kontes China’s Got Talent. Ia tampil memukau dengan lantunan lagu You’re Beautiful tanpa ada sedikitpun kesalahan. Sebagai juara, Liu berkesempatan untuk tampil di panggung Las Vegas selama tiga bulan. Liu juga menandatangani kontrak dengan Fremantle Media dan Sony Music Entertainment. Bahkan penyanyi asal Taiwan, Jolin Tsai, mengundangnya untuk ikut serta dalam tur dunianya.

Dari kisah ini kita akan mendapat banyak pelajaran yang berharga. Salah satunya tentang memaksimalkan talenta yang kita miliki. Hal tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kesediaan untuk memaksimalkan diri merupakan kunci menuju masa depan dengan kesuksesan. Saat ini, jangan pernah memandang berapa banyak “modal” yang kita miliki untuk mampu meraih keberhasilan. Akan tetapi bertanyalah pada diri kita sendiri; sudahkah kita memaksimalkan setiap “modal” yang kita miliki ? Karena itulah jalan yang disediakan Tuhan bagi kita untuk meraih keberhasilan. Kesuksesan sejati adalah tentang seberapa besar usaha kita untuk memberdayakan diri.

(Deborah Afnika – JCLO Dumai)

Kaya Atau Miskin

Seorang Ayah dan anak yang berasal dari keluarga yang sangat harmonis, melakukan perjalanan ke perkampungan petani agar si anak melihat kemiskinan yang terjadi.

Selama dua hari dua malam mereka menginap di pertanian untuk melihat kehidupan keluarga petani yang miskin. Sekembalinya mereka dari perjalanan, sang Ayah bertanya kepada anaknya, “Apa yang kamu lihat dan dapatkan dalam perjalanan kita ?” “Luar biasa Ayah…” “Apakah kamu mellihat betapa miskinnya kehidupan mereka ?” Tanya sang Ayah “Yah, begitulah ayah” jawab si Anak. “Jadi, apa yang kamu pelajari dari perjalanan kita kali ini?” Tanya sang Ayah… Si anak menjawab: “ Aku melihat kalau kita memiliki seekor Anjing, tapi mereka memiliki 4 ekor anjing”

“Kita punya kolam renang yang lebarnya sampai ke tengah-tengah halaman kita, tapi mereka memiliki kolam alami yang tidak ada ujungnya” “Kita memiliki lampu taman import, tapi mereka memiliki bintang di langit untuk menerangi halaman mereka” “Taman halaman belakang kita sampai ke halaman depan, tapi mereka punya sampai ke ujung horizon” “Kita memiliki sebidang tanah untuk tinggal, tapi mereka memiliki daratan sejauh mata kita memandang” “Kita memiliki pelayan untuk melayani kita, tapi mereka saling melayani satu sama lain” “Kita harus membeli makanan dan minuman kita, tapi mereka menanamnya untuk mereka makan” “Kita memiliki tembok disekeliling rumah untuk melindungi kita, tapi mereka memiliki teman untuk melindungi mereka” “Sang ayah terdiam” Lalu sianak menambahi, “Terima kasih Ayah sudah menunjukkan kepadaku,, betapi miskinnya kita” Bukankah ini merupakan cara pandang yang luar biasa? Kita akan merasa luar biasa kalau kita bersyukur atas apa yang kita miliki, bukan khawatir atau resah atas apa yang tidak kita miliki… Hargailah setiap hal, termasuk hal kecil yang kita miliki, terutama teman/sahabat kita.

MARI MERUBAH CARA PANDANG DAN PENILAIAN KITA.. HIDUP INI SANGAT SINGKAT TANPA TEMAN/SAHABAT

(Deborah Afnika – JCLO Dumai)

Incoming search terms:

  • buku anak miskin atau petani

Maafkan, Cara Terbaik Kurangi Bagasi Emosi

Memaafkan terkadang jadi sesuatu yang sulit untuk dilakukan dalam hidup kita. Terkadang saat seseorang melukai hati Anda, yang paling ingin Anda lakukan adalah mengutukinya dan terus membencinya. Anda merasa saat memberi maaf pada orang ini berarti dia tidak mendapatkan hukuman atas apa yang telah dilakukannya. Sebenarnya itu memang tak sepenuhnya salah. Kita semua akan menuai apa yang telah kita tanam,itu sebuah hukum alam yang tidak terhindarkan. Tapi masalahnya adalah, Anda menjalani hidup saat ini. Kita semua ingin menjalani hidup dengan utuh, sayangnya, menyimpan rasa kesal dan kemarahan membuat kita tidak bisa menjalani hidup dengan sepenuhnya. Dan sebenarnya memaafkan orang lain itu tidak sesulit yang kita bayangkan. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh seperti di bawah ini.
1.) Anda perlu menyadari jika menahan maaf juga berarti menahan diri Anda sendiri untuk lebih bahagia. Jika Anda memutuskan untuk memberi maaf, pastikan pertama Anda mengerti, memaafkan bukan soal perasaan tapi sebuah pilihan.

2.) Memaafkan itu berarti melepaskan rasa sakit, jadi dengan cara ini Anda mendapatkan penyembuhan. Hidup kita terlalu singkat untuk dilewatkan dengan menggenggam rasa sakit dan tertahan di tempat yang sama. Memaafkan seseorang yang telah menyakiti Anda bukan berarti membiarkan mereka melakukan hal yang sama lagi, lebih mudahnya adalah memilih untuk tidak membiarkan rasa dendam menguasai hidup Anda.

3.) Memang tidak mudah menghapus rasa sakit yang ditimbulkan oleh seseorang. Memaafkan perbuatan buruk orang lain tidak dapat terjadi dalam semalam. Anda bisa melakukannya dengan cara bertahap di setiap harinya. Katakan tiap hari kalau Anda telah memaafkan orang ini. Dan perlahan – lahan rasa sakit itu akan terhapus dari hati Anda.

4.) Banyak orang bilang, maafkan dan lupakan. Tapi kenyataannya tidak akan semudah itu. Mari kita realistis saja, sulit untuk melupakan begitu saja orang yang telah melukai hati Anda. Cara terbaik memaafkan bukan dengan melupakan kesalahan orang ini. Anda benar-benar telah memaafkan jika Anda memikirkan orang ini tanpa disertai perasaan mendongkol atau kesal. Anda bisa bersama-sama dengan orang ini dalam satu ruangan tanpa merasa tertekan. Anda tahu pasti telah benar-benar memaafkan jika memikirkan orang ini dan mengharapkan yang terbaik untuknya.

5.) Saat Anda telah memutuskan untuk memaafkan, sejalan dengan itu berdoalah pada Tuhan untuk menyembuhkan luka hati Anda. Percayalah Dia pasti akan melakukannya. Seperti seorang anak yang habis terjatuh dan dia berlari pada ayahnya untuk memasangkan band aid di lututnya dan sang ayah tidak mungkin berpaling, sudah pasti dia akan memeluknya, mengajaknya masuk dan memasangkan band aid di lutut di anak. Begitu juga Tuhan pasti akan menyembuhkan luka hati kita.

6.) Tidak satupun dari kita yang sempurna. Karena ketidaksempurnaan inilah kita kerap kali saling menyakiti. Kita semua produk dari masa lalu. Sebagian besar masa lalu kita berisi rasa sakit dan luka. Saat kita dilukai biasanya ada kecenderungan untuk ganti melukai, entah kita sadari atau tidak. Jadi, sadari kalau orang yang melukai kita mungkin juga harus mengatasi luka hatinya sendiri. Memang perbuatan orang yang menyebabkan kita terluka tak termaafkan, tapi mungkin Anda akan dapat memahami saat menyadari kenapa mereka melakukan perbuatan itu pada Anda.

7.) Kita hanya menjalani hidup sekali saja. Jangan biarkan rasa dendam menghalangi Anda untuk menjalani hidup dengan sepenuhnya. Mulai lah memaafkan dan biar Tuhan yang menyembuhkan lukanya. Kurangi bagasi emosi yang Anda bawa ke mana-mana dengan cara memaafkan.

Menahan maaf dan menyimpan dendam bukan hanya membuat hidup Anda terasa lebih berat. Menahan maaf hanya akan membuat rasa pahit tumbuh dalam di hati Anda seperti kanker. Menyimpan rasa marah dan kesal juga tidak bagus untuk kesehatan, dapat menyebabkan stres, kegelisahan, rasa malu, sakit kepala, rasa takut, depresi, masalah pencernaan dan juga sakit jantung. Jadi,mari mulai membersihkan bagasi emosi dengan memberi maaf pada siapapun yang melukai hati Anda. Saatnya menjalani kehidupan Anda dengan penuh!

Cukup Itu Berapa ?

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib.Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya.

Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”.

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih
kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.

Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata “cukup”. Kapankah kita bisa berkata cukup?
Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.
Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target.
Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati.
Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup? Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri.
Tak perlu takut berkata cukup.Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.
“Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup.
Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.


Belajarlah untuk berkata “Cukup”

Bai Fang Li, Tukang Becak Penyumbang Ratusan Juta untuk Yatim Piatu

Namanya BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.



Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Dipojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong.Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Kejadian yang Mulai Merubah Pandangan Hidupnya

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana. “Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu. “Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.

“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Dalam Memberi, Bai Fang Li Tak Pernah Menuntut Apapun

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan……” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis……..

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta rupiah, jika tidak salah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan “Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luarbiasa”.

Bila SESEORANG yang miskin menyumbang dari kekurangannya, maka ia adalah salah satu PENGHUNI SURGA yang diutus ke dunia, yang mengajarkan kita untuk selalu BERSYUKUR dan selalu BERBAGI kepada sesama.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Dipojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong.Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Kejadian yang Mulai Merubah Pandangan Hidupnya

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana. “Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu. “Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.

“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Dalam Memberi, Bai Fang Li Tak Pernah Menuntut Apapun

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Kasih Ibu dan Tiga Karung Berasnya

Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggallah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang. Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja di sawah. Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa ke kantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibunya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut dan kemudian berkata kepada ibunya: “Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja di sawah”. Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata “Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa ke sana”.

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan ke sekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya. Sang anak akhirnya pergi juga ke sekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.

Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa ibunya datang ke kantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya. Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : “Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, di sini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran”. Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Awal bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk ke dalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: “Masih dengan beras yang sama”. Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : “Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya”.

Sang ibu sedikit takut dan berkata : “Ibu pengawas, beras di rumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : “Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras”. Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali ke sekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: “Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !”. Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: “Maafkan saya Bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis”. Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk di atas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: “Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja di sawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi.” Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.

Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan ke sekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: “Bu, sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu.” Sang ibu buru-buru menolak dan berkata: “Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya dan akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini.”

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam-diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi Qing Hua dengan nilai 627 point.

Di hari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk di atas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi di sana masih terdapat tiga kantong beras. Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.

Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : “Inilah sang ibu dalam cerita tadi.” Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik ke atas mimbar. Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat ke belakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: “Oh Mamaku………………”

Pepatah mengatakan: “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang zaman dan sepanjang kenangan.” Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagiaan serta sukses di masa depannya.

Hari yang Indah

Seorang anak kecil duduk diantara anak tangga di sebuah bangunan dengan topi di kakinya.
Dia memegang sebuah papan yg bertuliskan : “aku buta, tolong aku”

Saat itu hanya ada beberapa koin saja di dalam topinya.

Seorang pria melintas di depannya. Dia mengambil beberapa koin dalam kantongnya & menaruhnya ke dalam topi anak tsb .

Pria itu kemudian mengambil papan pada anak kecil itu, membalikkan papan itu & menulis beberapa kata, menaruhnya kembali & berjalan meninggalkan anak kecil tsb.

Segera topi itu terisi & semakin penuh. Begitu banyak orang memberikan uang kepada anak kecil yang buta itu.

Pada sore harinya pria yang mengganti tulisan di papan melintas kembali untuk melihat perubahan apa yang terjadi.

Anak kecil itu mengenali suara langkah kakinya & bertanya : “apakah kamu yang mengganti tulisan pada papanku pagi hari ini? Apa yang kamu tulis?” Pria tsb menjawab,”aku menulis yang sebenarnya. Aku menulis apa yang kamu tulis hanya dengan cara yang berbeda.” Aku menulis,”hari ini adalah hari yang indah, hanya saja aku tidak bisa melihatnya.”

Kedua kalimat tsb memberi arti yang sama bahwa anak kecil itu tidak bisa melihat (buta).
Kalimat 1 memberitahukan secara lansung bahwa anak kecil tsb buta,

sedangkan kalimat 2 mberitahukan bahwa mereka sungguh beruntung bahwa mereka tidak buta.

Yg bisa kita petik dari cerita motivasi ini adalah :
•Bersyukurlah atas apa yang kami miliki.
•Jadilah kreatif.
•Jadilah innovative.
•Berpikirlah dengan cara yang berbeda & positif.
•Ketika hidup memberi kamu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa hidup yang memberi kamu 1000 alasan untuk tersenyum.
•Hadapi masa lalumu tanpa kecewa.
•Hadapi masa depanmu dengan percaya diri. Siapkan masa depan tanpa ketakutan.
•Pertahankan iman & jauhkan rasa takut.
Hal yang paling indah adalah membuat orang lain tersenyum

& terlebih indah lagi, bila mengetahui bahwa kamu dibalik itu semua!!!