DIPLOMASI ALA BUGIS

by Yusuf Kala
Sebelum saya menjabat sebagai WAPRES, karakter dan watak orang Bugis  sangat jarang yang mengenalnya di belahan nusantara  ini. Bahkan ada  banyak pendapat yang keliru dan menyangka orang bugis  adalah bangsa  yang keras dan tidak pernah kenal kompromi. Ini jika  melihat dari  sejarah banyak yang menganggap bahwa orang bugis adalah  bajak laut pada  masa silam. Anggapan ini sungguh tidak berdasar dan  keliru.

Orang  bugis sebenarnya mempunyai cirri khas yang  menarik. Dari sejarahnya kerajaan bugis didirikan bukan pada pusat-pusat  ibu kota dan sangat  jauh dari pengaruh India. Itulah sebabnya di Bugis  tidak ada candi. Ini  berbeda dengan kerajaan jawa yang mebangun pusat  kerajaannya pada ibu  kota dan bersifat konsentris.

Namun demikian, orang bugis sudah  terkenal memiliki  kebudayaan, mereka memiliki tradisi lisan maupun  tulisan. Bahkan orang  bugis memiliki salah satu epos terbesar di dunia  yang lebih panjang  daripada epos Mahabarata yakni cerita tentang  lagaligo yang sampai saat  ini sering dibaca dan disalin ulang dan  menjadi budaya yang mengakar  pada masyarakat bugis.

Bagi suku-suku lain, orang Bugis sering dianggap sebagai orang yang berkarakter keras dan sangat menjunjung  tinggi kehormatan. Bila perlu demi  kehormatan, orang bugis bersedia  melakukan kekerasan. Namun dibalik  sifat itu semua, sebenarnya orang  bugis adalah orang yang sangat ramah,  menghargai orang lain dan  menjunjung tinggi kesetiakawanan, bahkan  bersedia menjadi bumper demi  kesetiakawanan. (itulah mungkin sebabnya  mengapa Golkar pada masa  pemerintahan SBY-JK sering menjadi Bumper  karena ia dipimpin oleh  seorang yang sangat berwatak bugis).

Meskipun sebagai bangsa  perantau, orang bugis  selalu membawa identitas bugisnya di mana mana.  Beberapa orang-orang di  singapura dan Malaysia meskipun sudah menjadi  warga Negara sana, dan  mereka sudah bergaya hidup modern tapi mereka  selalu mengaku sebagai  orang Bugis meskpiun sudah merupakan keturunan yang kesekian dan belum  pernah menginjak tanah bugis.

Begitu juga  dengan saya, selama terjun ke dunia  politik saya tidak pernah melepas  karakter bugis saya yang blak-blakan,  dan sering dianggap kurang santun  bagi mereka yang sangat menghargai  etiket. Tapi itulah saya, saya  sering mengatakan kepada teman-teman,  jangan paksa saya jadi orang  jawa. Menjadi orang bugis dan berkarakter  keras kadang berguna juga. Waktu menyelesaikan kasus ambalat untuk  pertama kalinya, saat itu saya  menggunakan gaya diplomasi ala Bugis yang  anda tidak dapatkan dalam  literature strategi diplomasi. Waktu itu saya  ke Malaysia bertemu  dengan Perdana Menteri yaitu Najib. Saat itu ia  ditemani oleh 5 Menteri  dan saya juga ditemani oleh 5 Menteri plus Dubes  kita. Saat pertemuan  itu

saya bilang ke Najib, “Najib…Ambalat itu  masalah  sensitive, itu bisa membuat kita perang. Kalau kita perang,  belum tentu  siapa yang menang. Tapi satu hal yang mesti you ingat, di  Malaysia ini  ada 1 juta orang Indonesia, 1000 orang saja saya ajari Bom,  dan mereka  Bom ini gedung-gedung di Malaysia maka habislah kalian”

Saat itu pak Najib kaget, dia sadar sebagai sesama Bugis, ancaman saya bukan hanya gertakan belaka. Dia bilang ke saya, “Pak Jusuf, tidak bisa begitu”

Saya bilang ke dia, “Makanya  mari kita  berunding, terus terang saya kadang tidak suka sama you  punya Negara,  Buruh-buruh Ilegal dari Indonesia ditangkapi kayak  binatang, sedangkan  majikannya tidak ditangkap, padahal  kalau ada buruh Ilegal maka  tentu ada juga majikan illegal. Setiap ada  Ilegal loging pasti orang  Malaysia yang ambil, begitu ada kebakaran hutan mereka marah-marah,  padahal hampir sepanjang tahun mereka  menghirup udara segar yang  dihasilkan oleh hutan-hutan di Indonesia,  satu bulan saja ada kabut asap  mereka marah marah. Dan juga setiap ada  ledakan Bom di Indonesia selalu  orang Malaysia dalangnya.”

Waktu itu Pak Dubes langsung bisiki saya, “Pak, Ini sepertinya sudah melewati batas diplomasi.”

Saya langsung bilang ke dia, “Kau kan Dubes, yah sudah kau perbaikilah mana yang lewat.”

Setelah itu, untuk menunjukkan ketidak sukaan saya kepada Malaysia saya menolak menginap di Kuala Lumpur,  saya bilang saya mau menginap di kampong  Bugis di Johor sana.

Akhirnya pak Najib ikut juga saya ke sana. Di atas  mobil, dalam perjalanan  menuju Johor Pak Najib Bilang ke saya, “Kayaknya bapak terlalu keras tadi waktu berunding.”

Saya cuman bilang ke dia, “Kamu kan juga orang Bugis, kenapa kau tidak keras juga tadi?”

Mendengar itu dia cuman ketawa saja.

Malamnya  di Johor, kita makan malam dan  nyanyi-nyanyi, mengundang Siti Nurhaliza, sampai jam 1 malam dan kita  ngantuk. Keesokan paginya kita  main golf, dan saat itu juga masalah  Ambalat selesai. Dengan gaya  Diplomasi ala Bugis, saya tidak perlu  memakai bahan yang sudah  disiapkan oleh DEPLU semua spontanitas saja.

Dan sampai sekarang kalau  ada tentara Malaysia datang lagi di Ambalat,  saya tinggal telpon Najib, “Hey Najib, jangan lagi kau kirim, you punya tentara ke Ambalat, kita bisa perang nanti.”

Demikan  juga waktu saya menyuruh EXXON supaya  angkat kaki dari Blok Natuna. Waktu itu saya dikejar oleh orang-orang  EXXON mereka mau melobi. Tapi  saya selalu menolak ketemu dan menghindar.  Saya ke Riyadh, mereka mau  nyusul ke sana, saya ke Jedah mereka mau  datang, tapi saya tolak karena  saya mau ibadah dan sampai di belahan  bumi manapun mereka kejar saya. Akhirnya waktu itu di Makassar karena  melihat kegigihan mereka, saya  suruh mereka datang. Dan datanglah itu  Chairman Exxon mereka 4 orang dan saya hanya ditemani oleh Sekretaris saya.

Saat pertemuan di Hotel Sahid Makassar, orang Exxon bilang ke saya, “Mr.Vice President, Anda kalau membatalkan kontrak dengan EXXON, maka besok akan saya SU”

Saya langsung pukul meja saya dan bilang ke dia, “Kalau kau berani SU, maka saya akan SU kau 10 kali. Its my country, not your country, jangan kau datang ke sini mau ancam-ancam saya.”

Saat itu dia langsung minta maaf. Dan saat itu Blok Natuna kembali ke tangan kita pengelolaannya,meskipun  pada akhirnya lepas lagi ke EXXON karena  wewenang saya dicabut dan  control tidak lagi berada di tangan saya.

Apa  pun itu, untuk kehormatan  bangsa, kita jangan mau didikte oleh bangsa  lain, kalau mereka keras,  maka kita balas lebih keras lagi. Jangan  pernah takut kita akan dibuat  susah dan macam-macam. Selama kita yakin  Tuhan selalu bersama kita,  maka bangsa lain tidak akan bisa berbuat  apa-apa terhadap kita.

sumber: tidak diketahui – kiriman dr teman

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>