Archive for the ‘Cerita Motivasi’ Category



J I K A….

Jika kamu memancing ikan….
Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu….
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semual ke dalam air begitu saja….
Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.

Segitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang….
setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya….
Jangalah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja…
Karena ia akan terluka oleh kenangan besamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingat…

Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungnya dan jangalah menganggap itu begitu teguh….
cukuplah sekadar keperluanmu…
apabila sekali ia retak, tentu sukar untuk kamu menambalnya semula…..
akhirnya ia dibuang….
sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi

Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya….
janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa….
anggaplah ia manusia biasa.
apabila sekali ia melakukan kekilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya….
akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus hingga ke akhirnya…

jika kamu telah memiliki sepinggan nasi yang pasti baik untuk dirimu, mengenyangkan, dan berkhasiat. mengapa kamu berusaha, mecoba mencari makanan yang lain?
Terlalu inign mengejar kelezatan.
kelak nasi itu akan basi dan kamu tidak bisa memakanya. kamu akan menyesal

begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan yang membawa kebaikan kepada dirimu, menyayangimu, mengasihimu.
Mengapa kamu berusaha mencoba membandingkannya dengan yang lain?
terlalu mengejar kesempurnaan.
Kelak, kamu akan kehilangannya….
apabila dia menjadi milik orang lain, kamu akan menyesal…

Masih Ada Lagi?

Andi melamar pekerjaan sebagai bagian penjualan di sebuah toko serba ada yang sangat besar. Setelah tes wawancara, kepala penjualan berkata,” Kamu boleh masuk mulai besok dan kita lihat keterampilanmu dalam menjual barang.”

Keesokan harinya Andi bekerja dengan rajin. Ketika jam kerjanya berakhir, atasannya memanggilnya,”Bagaimana? Kamu berhasil menjual barang kepada berapa orang?” “Satu.” jawab Andi “Satu? Semua pegawai di sini biasa menjual kepada 10 hingga 20 orang. Berapa nilai transaksinya?” ” Dua setengah milyar rupiah,” jawab Andi. ” Hah, bagaimana mungkin?” tanya si kepala penjualan. ”

Seorang lelaki setengah baya masuk, kemudian saya menawarinya mata kail. Dia membeli tiga macam ukuran : kecil, sedang dan besar, karena itu dia membutuhkan 3 kail juga.

Ketika saya tanya mau kemana memancingnya, dia bilang di laut, berarti dia butuh speed boat. Saya bawa dia memilih speedboat besar dengan dua mesin. Dia berkata bahwa mobilnya tak akan mampu membawa speedboat tersebut ke pantai. Jadi saya bawa dia ke bagian penjualan mobil dan dia membeli Deluxe Cruiser model terbaru.” Michael Leboeuf,”

Cara paling pasti untuk membuat pelanggan jatuh cinta pada bisnis anda, kemudian kembali untuk membeli lebih banyak lagi, dan menceritakan kepada orang lain betapa hebatnya Anda, adalah dengan mempraktekkan prinsip “masih ada lagi?” Itulah yang dilakukan Andi. Ia tidak hanya menawarkan mata kail kepada konsumennya, tetapi juga hal hal lain yang mungkin dibutuhkan pelanggannya. Alhasil, ia berhasil menjual barang dengan omzet yang lebih besar, dan pelanggannya pun senang karena merasa telah dibantu dan diperhatikan.

Menjadi pekerja yang aktif dan dapat memberi lebih dari yang diminta oleh para pelanggan kita, bukankah itu juga yang Tuhan perintahkan pada kita? Bila sikap kita tidak kaku, tidak dingin, tetapi mau memberi pelayanan terbaik bagi para pembeli, mereka tidak hanya senang dan membeli lagi kepada kita. Namun mereka pun akan senang menceritakan kehebatan perusahaan kita kepada orang lain. Imbalan anda dalam hidup akan berbanding lurus dengan pelayanan anda kepada orang lain.

- Zig Ziglar Deborah – JCLO Dumai

Sudahkah Anda Tersenyum Hari Ini?

Senyum membuat anda lebih menarik, orang yang suka tersenym membuat perasaan orang disekitarnya lebih nyaman dan senang. Senyum mengubah perasaan sedih menjadi bahagia. ketika seseorang tersenyum, suasana kerja menjadi lebih menyenangkan, orang disekitar Anda menjadi tersenyum

ketika anda stress, cobalah untuk tersenyum karena senyuman akan mengurangi stress dan membuat pikiran menjadi jernih. senyum juga akan meningkatkan imunitas tubuh. fungsi imun akan bekerja maksimal saat tubuh rileks. bahkan menurut penelitan, senyum dapat menyembuhkan batuk dan flu.

senyum ibarat obat alami, bisa menghasilkan endorphin, pemati rasa alamiah dan serotonin. senyum membuat anda awet muda krn senyum menggerakan banyak otot wajah. senyum mebuat anda lebih sukses dan percaya diri.

Sudahkah Anda Tersenyum hari ini?

“Hati yang gembira adalah obat, tetapi semangat yang patah meremukan tulang”

DEDIKASI, PRESTASI DAN KONEKSI

Jika ada pertanyaan: untuk apa anda bekerja? Jawabannya ada 2. Pertama, bekerja untuk mengejar kesejahteraan (uang) , kedua bekerja mengejar pangkat, jabatan atau kedudukan.

Jika secara jujur dan konsekuen, jenjang karier seseorang pekerja semestinya hanya tergantung pada 2 hal : dekikasi dan prestasi. Cukuplah dengan 2 syarat ini, setiap pimpinan tanpa dipengaruhi oleh ‘apapun’ harus bertanggung jawab untuk memberikan kesempatan jenjang karier kepada bawahannya, sebagai realisasi dari bimbingan karier yang dilakukannya.

Dan dalam penilaian, untuk menentukan karier seseorang hendaknya antara prestasi dan dedikasi jangan dipisahkan. Akan tetapi jadikanlah sebagai satu kesatuan sebagai barometer yang akan dapat menentukan karier seseorang secara mutlak.

Artinya, bahwa ukuran penentuan dari penilaian itu tidak hanya bertolak dari prestasi saja atau dedikasi saja, keduanya ‘saling sangat’ menentukan.

Penentuan prestasi berkisar pada keberhasilan pekerja dalam menjalankan tugasnya dengan baik dan dapat menyelesaikan job desc nya dengan baik. Sedangkan penentuan pada dedikasi bahwa sepanjang tugasnya hampir tidak ada cacat dalam menyesaikan tugas dan kewajibannya, bekerjasama dengan baik dengan atasan dan rekan sekerja.

Sebenarnya dari 2 kriteria ini, semestinya sudah bisa menentukan seseorang untuk memperoleh kesempatan lebih baik dalam memperoleh jenjang karier, pangkat dan jabatannya.

Namun pada kenyataannya, sudahkah yang demikian ini terwujud dalam memberikan kesempatan jenjang karier? Sebab ada gejala bahwa prestasi dan dedikasi tidak cukup menjamin seseorang dalam mendapatkan jenjang karier lebih baik. Masih ada satu lagi hal yang sudah bukan rahasia umum lagi: Koneksi.

Di jaman sekarang, sistim kenaikan jenjang karier bagi pekerja harus disertai dengan koneksi. Bahkan ini adalah penentu akhir dari segalanya.
Seseorang yang memiliki segudang prestasi dan dedikasi tinggi sekalipun, jangan harap akan bisa segera memperoleh kesempatan jenjang karier, kalau tidak mampu berkoneksi.

Betapa amat menentukan sisitim koneksi itu?
Bukanlah bila sistim koneksi itu lebih menonjol, berarti akan mengurangi nilai prestasi dan dedikasi?
Lalu bagaimana nasib berkoneksi itu?
Sebenarnya koneksi bisa saja dilakukan sepanjang dalam batas kewajaran, artinya hanya sebagai ‘pelengkap’, hanya sebatas dari bentuk kebijaksanaan dari atasan yang tetap berpangkal pada prestasi dan dedikasi.
Jadi koneksi yang dilakukan dikarenakan atasan dan bawahan memiliki kedekatan secara ‘ilmu pengetahuan’.

Akan tetapi ada suatu pendapat yang cukup kuat dalam masalah ini, koneksi biasa dilakukan oleh pekerja yang merasa dekat dengan atasannya secara ‘emosional’, tanpa dibekali ‘ilmu pengetahuan’, dan hal ini bukan hal aneh lagi, yang bisa dijumpai di tempat bekerja, coba lihat sekeliling anda.

Bagaimana sikap anda melihat fenomena diatas dalam dunia kerja anda?
Sudah barang tentu terus tingkatkan prestasi dengan tetap menjaga dedikasi yang tinggi dengan menjunjung tinggi sikap loyalitas pada perusahaan anda, untuk meningkatkan jenjang karier yang ingin anda raih.
Tentang koneksi, kalau memang hanya sebagai ‘pelengkap’ dalam proses peningkatan jenjang karier, namun tidak memiliki ‘konektor’, lakukanlah koneksi dengan Sang Maha Koneksi.
Kiranya Tuhan masih membukakan pintu untuk menerima doa hambaNya yang ingin melakukan koneksi. Silahkan !!!

Seandainya saja….

Dua orang gelandangan sedang duduk mengobrol di sudut jalan. Gelandangan pertama berkata pada temannya,” Hidup ini memang susah. Tapi, seandainya saja saat ini aku punya uang satu juta, pasti hidupku bahagia.” Ternyata, obrolan kedua gelandangan itu didengar seorang jutawan yang sedang kebetulan lewat.

Jutawan itu berhenti dan bertanya,” Maaf, saya dengar tadi Anda bilang hidup Anda akan bahagia jikan Anda punya satu juta rupiah?” Tanyanya. “Benar sekali,Pak” Jawab gelandangan itu. “Oke, saya akan beri anda satu juta rupiah. Semoga anda berbahagia.” Jawab si jutawan murah hati itu sambil mengeluarkan dompetnya dan memberi seikat uang.

Setelah sang jutawan pergi, apakah kita bisa menebak apa yang akan dikatakan si gelandangan? Dia berkata pada temannya,” Wah, seandainya saja aku tadi bilang sepuluh juta!” Jika kita berhasil menebak dengan benar, jangan-jangan itu salah satu tanda kita juga sering berpikir demikian.

Seandainya saja aku lahir di keluarga yang lebih bahagia. Seandainya saja aku tidak lahir di Indonesia. Seandainya saja aku punya kemampuan, kekayaan, popularitas, dan kesempatan seperti dirinya. Seandainya saja… Seandainya saja..

Apakah ‘seandainya saja‘ ini menjadi kata favorit dalam menggambarkan kehidupan kita? Benjamin Franklin pernah berkata,”Rasa cukup membuat orang miskin menjadi kaya, tetapi rasa tidak cukup membuat orang kaya menjadi miskn.” Rasa cukup tidak ditentukan oleh apa yang kita punya. Namun, rasa cukup itu hanya ditentukan oleh bagaimana sikap kita terhadap apa yang terjadi dan apa yang kita miliki.

Bukan impian yang membuat kita bahagia. Tetapi rasa syukurlah yang menentukannya. Saat kita terus melihat tetangga sebagai saingan, saat kita hanya melihat ke atas, hanya berkumpul dengan kelompok yang membuat kita tampak malang dan menderita, atau saat kita hanya mengukur segalanya dengan materi, kita tidak akan pernah merasa cukup. Jadi berhati-hatilah jika kata”seandainya saja” lebih sering kita ucapkan atau pikirkan ketimbang ucapan syukur.

(Deborah Afnika – JCLO Dumai)

Mengubah takdir

Seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau.
Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik?

Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman. Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi.
Apa yang harus dilakukannya?

Banyak pemain mengalami hal serupa. Hampir seluruhnya memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima hukuman. Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi.

Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang memukul bola bersama kantong kertas itu. Resikonya terlalu besar. Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu.

Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sekotak korek api. Lalu ia menyalakan satu batang korek api dan membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat, wus, bola terpukul dan jatuh persis ke dalam lobang di lapangan hijau. Bravo! Dia tidak terkena hukuman dan tetap bisa mempertahankan posisinya. Smiley…!

Sahabat, Ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih untuk menerima hukuman itu. Ada juga yang mengambil resiko untuk melakukan kesalahan bersama kesulitan itu.
Namun, sedikit sekali yang bisa berpikir kreatif untuk menjadikan kesulitan itu sebagai peluang untuk menggapai kesuksesan.

Keputusan dan Takdir Tuhan itu akan berubah ketika kita berani menempuh mujahadah ( kesungguhan ) dan ikhtiar yang maksimal. Bukan hanya menerima dan pasrah dengan keadaan yang ada.

Kasus diatas, adalah contoh konkrit Kalau sang pegolf tersebut tidak berfikir keras dan menerima kondisi yang ada didepan matanya, maka dipastikan dia tidak akan menang bahkan terhukum. Keadaan yang sulit tersebut membuat dirinya tidak menyerah begitu saja dan mengerahkan segala kemampuan berfikirnya untuk mengatasi kesulitan yang ada di depan matanya. Maka Tuhan pun turun tangan memberikan solusi untuknya, dan takdir kemenanganpun diraihnya.

Mengapa Saya?

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; US Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975).
Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi bypass.
Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.
Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya, “Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?”
Ashe menjawab,
“Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis,
di antaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis,
500 ribu orang belajar menjadi pemain tenis profesional,
50 ribu datang ke arena untuk bertanding,
5000 mencapai turnamen grandslam,
50 orang berhasil sampai ke Wimbeldon,
empat orang di semifinal, dua orang berlaga di final.
Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan,
“Mengapa saya?”,
Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan,
“Mengapa saya?”
Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan, karier yang mulus, kesehatan.
Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Tuhan tidak adil.

Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan.
Tetapi tidak demikian.
Ia berbeda dengan kebanyakan orang.
Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup yg menekan berat.
Ketika menerima sesuatu yg buruk, ingatlah saat – saat ketika kita menerima yg baik…
“Kuda pemenang tidak tahu mengapa dia harus lari dan memenangkan perlombaan.
Yang dia tahu, dia harus berlari karena dipukul dan sakit..!!
Hidup ini seperti sebuah perlombaan.
Dan Tuhan adalah komandonya atau ibarat jokinya..
Jika engkau mengalami sakit, dihajar, menerima yang tidak enak, berpikirlah: Tuhan ingin engkau menang !!”

tetap semangat!!

Bai Fang Li, Tukang Becak Penyumbang Ratusan Juta untuk Yatim Piatu

Namanya BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.



Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Dipojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong.Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Kejadian yang Mulai Merubah Pandangan Hidupnya

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana. “Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu. “Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.

“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Dalam Memberi, Bai Fang Li Tak Pernah Menuntut Apapun

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan……” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis……..

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta rupiah, jika tidak salah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan “Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luarbiasa”.

Bila SESEORANG yang miskin menyumbang dari kekurangannya, maka ia adalah salah satu PENGHUNI SURGA yang diutus ke dunia, yang mengajarkan kita untuk selalu BERSYUKUR dan selalu BERBAGI kepada sesama.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Dipojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong.Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Kejadian yang Mulai Merubah Pandangan Hidupnya

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana. “Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu. “Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.

“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Dalam Memberi, Bai Fang Li Tak Pernah Menuntut Apapun

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Kasih Ibu dan Tiga Karung Berasnya

Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggallah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang. Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja di sawah. Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa ke kantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibunya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut dan kemudian berkata kepada ibunya: “Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja di sawah”. Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata “Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa ke sana”.

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan ke sekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya. Sang anak akhirnya pergi juga ke sekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.

Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa ibunya datang ke kantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya. Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : “Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, di sini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran”. Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Awal bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk ke dalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: “Masih dengan beras yang sama”. Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : “Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya”.

Sang ibu sedikit takut dan berkata : “Ibu pengawas, beras di rumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : “Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras”. Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali ke sekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: “Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !”. Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: “Maafkan saya Bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis”. Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk di atas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: “Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja di sawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi.” Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.

Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan ke sekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: “Bu, sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu.” Sang ibu buru-buru menolak dan berkata: “Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya dan akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini.”

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam-diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi Qing Hua dengan nilai 627 point.

Di hari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk di atas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi di sana masih terdapat tiga kantong beras. Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.

Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : “Inilah sang ibu dalam cerita tadi.” Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik ke atas mimbar. Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat ke belakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: “Oh Mamaku………………”

Pepatah mengatakan: “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang zaman dan sepanjang kenangan.” Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagiaan serta sukses di masa depannya.

Hari yang Indah

Seorang anak kecil duduk diantara anak tangga di sebuah bangunan dengan topi di kakinya.
Dia memegang sebuah papan yg bertuliskan : “aku buta, tolong aku”

Saat itu hanya ada beberapa koin saja di dalam topinya.

Seorang pria melintas di depannya. Dia mengambil beberapa koin dalam kantongnya & menaruhnya ke dalam topi anak tsb .

Pria itu kemudian mengambil papan pada anak kecil itu, membalikkan papan itu & menulis beberapa kata, menaruhnya kembali & berjalan meninggalkan anak kecil tsb.

Segera topi itu terisi & semakin penuh. Begitu banyak orang memberikan uang kepada anak kecil yang buta itu.

Pada sore harinya pria yang mengganti tulisan di papan melintas kembali untuk melihat perubahan apa yang terjadi.

Anak kecil itu mengenali suara langkah kakinya & bertanya : “apakah kamu yang mengganti tulisan pada papanku pagi hari ini? Apa yang kamu tulis?” Pria tsb menjawab,”aku menulis yang sebenarnya. Aku menulis apa yang kamu tulis hanya dengan cara yang berbeda.” Aku menulis,”hari ini adalah hari yang indah, hanya saja aku tidak bisa melihatnya.”

Kedua kalimat tsb memberi arti yang sama bahwa anak kecil itu tidak bisa melihat (buta).
Kalimat 1 memberitahukan secara lansung bahwa anak kecil tsb buta,

sedangkan kalimat 2 mberitahukan bahwa mereka sungguh beruntung bahwa mereka tidak buta.

Yg bisa kita petik dari cerita motivasi ini adalah :
•Bersyukurlah atas apa yang kami miliki.
•Jadilah kreatif.
•Jadilah innovative.
•Berpikirlah dengan cara yang berbeda & positif.
•Ketika hidup memberi kamu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa hidup yang memberi kamu 1000 alasan untuk tersenyum.
•Hadapi masa lalumu tanpa kecewa.
•Hadapi masa depanmu dengan percaya diri. Siapkan masa depan tanpa ketakutan.
•Pertahankan iman & jauhkan rasa takut.
Hal yang paling indah adalah membuat orang lain tersenyum

& terlebih indah lagi, bila mengetahui bahwa kamu dibalik itu semua!!!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...